Berproses Itu Kadang Kala Menyakitkan

Proses hidup
Proses Hidup



Berproses Itu Menyakitkan. Ini yang pertama kali ipeh rasain kala harus keluar dari zona nyaman.

Rasanya nggak nyaman. Cepet capek karena ngerasa nggak pas. Lelah banget sampe berkali-kali kesel.

Ipeh ngerasain ini saat mulai masuk dan belajar lagi dari awal. Belajar cara bisnis yang baik dan benar. Melalui komunitas Ibu-ibu doyan bisnis.

Setiap hari, kami digenjot buat ngerjain tugas. Harus ada perubahan yang signifikan dilihat dari omsetnya. Kalau enggak ada perbaikan, berarti masih ada langkah yang kurang tepat.

Gemblengan ini sempet bikin Ipeh mau nyerah. Pengen berhenti. Tapi, ada satu pikiran yang mengganggu.

Kenapa mereka bisa tapi ipeh belum bisa?
Apa yang salah?

Dari pertanyaan seperti ini akhirnya Ipeh belajar lagi. Lihat lagi langkah mana yang masih kurang. Mulai lagi sampai bingung mau cek yang mana.

Rasanya semua sudah Ipeh kerjain. Kayanya ngga ada yang kelewat. Secara ya, ipeh pikir kalau ini tuh nggak susah. Gampang.

Tapi, kenapa sih? Kok Ipeh belum ngerasain apa yang mereka rasain?

Dari sinilah…
Dari rasa sakit ini…
Ipeh belajar.


Belajar Bisnis Dari Whatsapp



Ini yang sedang ipeh pelajari. Gimana caranya maintaining database whatsapp. Agar tercipta interaksi dan mempererat hubungan dengan baik.

Ketika Ipeh cek lagi. Ini tuh sama dengan usaha yang dulu pernah ipeh lakukan. Dengan blogwalking ke semua blog. Harapannya bisa saling kenal dan bisa tercipta interaksi.

Ternyata, semua langkahnya sama. Kita harus interaksi. Kita harus belajar memberikan apresiasi dan pick up line percakapan yang baik dan benar.

Kalau dulu, mungkin Ipeh lagi semangatnya. Sekarang, justru ipeh mulai ketika lagi redup. Jadi, muncul drama yang bikin ipeh sempet nangis dan mempertanyakan apa harus lanjut atau berhenti.


Keraguan
Ketika Ragu Melanda



Setiap Usaha Apapun Itu Akan Sama Kerjakerasnya



Mungkin, bagi sebagian orang akan mikir. Ah elah, usaha pake gadget aja drama. Gimana itu yang sampe keujanan?

Bener. Mungkin bagi yang mudah dalam praktek ini itu. Akan menghadapi hal berbeda dengan yang sulit praktek seperti ipeh.

Rasanya berat ketika harus memberikan komentar dan aktif pada semua grup yang diikuti.

Komentar yang diberikan dalam sehari itu bukan cuma sama beberapa orang. Tapi 100an lebih kontak yang ada di database.

Setiap hari seperti itu dengan komentar yang harus berbeda. Nggak boleh cuma komentar dengan emotikon. Sungguh, ini berat buat Ipeh.

Tapi, ipeh yakin ini pun sama dengan apa yang dilakukan abang tukang bakso. Dalam hal ini usaha yang dikerjakan.

Setiap pagi, ipeh wajib bikin konten berbeda dari kemarin dan beda banget dari satu bulan kemarin.

Belum lagi, harus bisa menjual sesuatu dengan bahasa yang enak. Yang nggak tampak lagi jualan.

Kemudian, dibatasi hanya boleh maksimal 8 slide. Ketika kekurangan konten, masih enak. Tapi, sulit kalau mau jelasin sesuatu yang penting.


Belajar Dari Abang Tukang Bakso



Akhirnya, ada satu masa di mana Ipeh duduk diam. Merenung. Bahwa kesulitan dalam mengolah konten sampai berlatih interaksi sama dengan proses kesulitan abang bakso.

Sebelumnya, si abang harus bangun lebih dulu. Mengolah bahan jadi bakso terus kuahnya. Kemudian dorong gerobak.

Kalau di satu kampung sepi. Maka si abang harus mau jalan lagi ke kampung lain.

Begitu pun yang ipeh alami. Saat Ipeh belum dapat perubahan. Akhirnya, ipeh harus berusaha lagi dan lagi.

Yang ternyata, enggak gampang. Melelahkan. Terlalu berlebihan karena buat ipeh hasilnya nggak seberapa.

Tapi.. Selama berproses akhirnya ada satu yang luput dari pandangan ipeh.


Kutipan ikhtiar
Ikhtiar



Berkumpul Dengan Perempuan Yang Merasakan Hal Sama



Ada satu tugas yang sempat bikin banyak perempuan yang ikut program ini pengen mundur. Atau bahkan mundur beneran.

Kami diwajibkan sharing pengalaman dan apa saja di grup. Benar. Kami harus menyeritakan sesuatu dan ternyata ini tidak semudah menulis di blog.

Sungguh, tahap sharing inilah akhirnya kami sama-sama paham dan tahu. Bahwa, kami semua adalah perempuan yang sama-sama pernah terjatuh, berdarah, menangis, lelah dan ingin berhenti. Tapi, kami berusaha untuk menetap.

Inilah kami, yang sampai berjilid-jilid mengikuti program sampai mungkin hanya Allah yang tahu. Karena, setiap naik lagi ke tingkat selanjutnya. Kami semakin erat dan berbagi kesulitan yang sama.

Tempat berbagi. Tempat saling menguatkan. Justru ini yang membuat ipeh masih bertahan. Masih mau melanjutkan proses hingga mencapai target yang pernah ditentukan.


Perubahan Itu Adalah Proses



Kalau ditanya apa yang berubah? Pastinya diri ipeh sendiri. Terutama cara ipeh berpikir. Sama bagaimana ipeh melewati proses pembelajaran.

Yang tadinya ingin jadi invisible man. Akhirnya, harus tampil, harus aktif. Melatih sesuatu yang tak pernah Ipeh sangka masih bersemayam dengan baik.

Kali ini, tantangan tersendiri untuk Ipeh. Apakah akan dipertahankan sampai kapanpun. Atau justru mau menyerah begitu saja?

Rasanya tak ingin menyerah. Mengingat dulu pernah berjuang begitu lamanya. Memulai dari nol. Kini, sayang kalau sampai ditelantarkan.


Sampai Nanti Sampai Mati



Dari proses inilah, ipeh belajar. Bahwa, ikhtiar itu akan terus dilakukan sampai nanti. Sampai maut menjemput.

Tak ada alasan lain selain terus ikuti arus. Berusaha maksimal dan optimal.

Semoga saja ipeh mampu dan bisa.

Teruntukmu yang tengah berproses. Yang sedang ikhtiar. Jangan menyerah, ya.

Ikhtiar dan konsisten itu memang kadang kala menyakitkan.

Postingan Terkait